DAMAR
KURUNG DARI MASA KE MASA
Penulis : Ika Ismoerdijahwati
Koeshandari
Penyunting: Nonot Sukrasmono
Pracetak: Ribut
Wijoto, Abdul Malik
Desain grafis :Mufian Haris (prot)
Cetakan
pertama: Januari 2009
Penerbit:
Dewan Kesenian Jawa Timur
Jl.
Wisata Menanggal Surabaya
email:
dk_jatim at yahoo.com
www.dewankesenianjatim.om
www.brangwetan.com
ISBN:
978-979-18793-4-7
KATA PENGANTAR
Sejak awal saya
mengikuti proses penulisan buku ini. Semula saya mengira, pelukis
Masmundari ini, adalah semacam Granda Moses yang bergaya naif. Tetapi
kemudian ternyata bahwa lukisan-lukisan Masmundari mengandung
nilai-nilai seni gambar archaik Indonesia.
Arah hadap tokoh yang
digambar, peletakan tokoh dalam bidang gambar, baik di kanan atau di
kiri, di atas atau di bawah, serta urutan dalam mengikuti cerita
dalam gambar, semua itu mengandung arti-arti yang baku.
Kalau kita
menyimak gambar-gambar di benda-benda perunggu atau lukisan
dinding-dinding gua dari zaman prasejarah Indonesia, terdapat
beberapa kemiripan pembakuan. Begitu pula kalau kita menyimak
relief-relief candi Indonesia, cara gambar Masmundari memiliki
kemiripan pula. Dengan singkat, gambar-gambar damarkurung Masmundari
mengandung rekaman budaya Indonesia, sejak prasejarah sampai zaman
Islam di Jawa. Karya-karya Masmundari adalah fosil budaya. Dan,
ternyata sampai sekarang, hanya didapatkan seorang pelukis saja yang
tersisa. Ini juga merupakan suatu keajaiban.
Gambar-gambar
Masmundari bukan hanya visual, tetapi juga auditif, bahkan indera
perasa digambarkan (arah tiupan angin). Gambar-gambar Masmundari
boleh disebut holistik. Dia selalu menggambar sosok manusia secara
penuh, tidak parsial seperti lukisan modern. Manusia dan alam,
manusia dan benda-benda buatannya, semuanya digambar utuh seperti
yang dipersepsinya. Dia berterus terang dengan kemampuan teknis dan
kemampuan kognitifnya, lengkap dengan kekurangan dan kejujurannya.
Garis-garisnya spontan, bentuk-bentuknya unik-naif. Tema-temanya
tentang kegembiraan hidup. Warna-warnanya cerah, terang, ceria, aneka
warna. Mirip gambar anak-anak yang belum kenal tipu daya.
Meskipun
demikian, gambar-gambarnya adalah purba. Kosmologi purba masih kuat
mendasari cara gambarnya. Arah kiri dan arah kanan mempunyai makna
sesuai dengan makna kosmologi tua Indonesia. Begitu pula arah atas
dan arah bawah. Kenyataan seperti ini masih terdapat pula dalam
pertunjukkan wayang kulit, wayang wong dan wayang beber. Lebih tua
lagi terdapat dalam arah gambar-gambar relief candi.
Petunjuk
utama pemahaman gambar-gambar damarkurung Masmundari adalah tuturan
pelukisnya sendiri. Saya mendengarkan rekaman videonya ketika
menceritakan arti gambar-gambarnya. Dengan petunjuk-petunjuk dari
pelukisnya sendiri ini, kita tinggal menafsirkan struktur berpikir
mana yang dia pakai. Dan ternyata banyak mengandung cara berpikir
tua, yakni Tantrayana.
Tidak mengherankan apabila sisa-sisa
terakhir cara gambar ini terdapat di Jawa Timur, Gresik. Masmundari
tentulah salah satu keturunan dari nenek moyang warga Majapahit.
Kerajaannya boleh lenyap, tetapi manusia-manusia yang membawa
nilai-nilai Majapahit masih terus hidup melalui berbagai generasi.
Bahwa cara gambar Masmundari bersifat kehindu-budhaan, dapat dilihat
dari teater tutur masyarakat Sunda, pantun, yakni Panggung Karaton,
yang masih menyebutkan istilah “damarkurung”. Pada waktu
menceritakan suasana kraton Dayeuh Manggung, pantun ini menyebut
adanya “damarlilin di tiap bilik, damarkalang di tiap tiang, dan
damarkurung di tiap ujung ruangan”. Kalau ada yang menduga bahwa
damarkurung tak lain adalah lampion yang ditiru dari budaya Cina,
boleh jadi mendekati kebenaran. Sampai sekarang pun, dalam film-film
silat Hongkong, kita temukan lampion-lampion digantung di teras-teras
rumah atau toko-toko Cina. Dengan demikian, damarkurung aslinya, di
Indonesia. Juga dibungkus oleh kertas. Ini memungkinkan adanya upaya
mengisi bidang-bidang kosong lampion itu dengan gambar-gambar. Dan
karena cara menggambar pada zaman itu berorientasi pada kepercayaan
agama Hindu-Budha-Tantra, maka cara gambar semacam itulah yang
dikerjakan untuk relief, buku-buku lontar, wayang beber, wayang dan
damarkurung ini.
Indonesia memiliki tradisi menggambarnya sendiri.
Dan ini tidak pernah kita sadari. “Lukisan Indonesia” itu pernah
ada. Lukisan gaya Bali adalah salah satu diantaranya. Tetapi juga
dapat ditelacak dari gambar-gambar di buku-buku lontar kuno atau
buku-buku peninggalan kraton. Pada begitu banyak gambar-gambar
prasejarah. Pada relief-relief candi. Dan masih banyak lagi, kalau
kita juga ingin memasukkan ragam hias pada kain-kain tenun dan batik
Indonesia. Atau semua gambar-gambar yang terdapat di artefak-artefak
tua kita. Semua itu menyadarkan kita, bahwa Indonesia memiliki
tradisi senirupanya sendiri. Dan karenanya juga memilki filosofinya
sendiri tentang gambar. Inilaj yang belum sempat kita ikirkan
bersama.
Buku ini dapat menggugah kita untuk melihat lebih banyak,
lebih teliti, dengan cara pandang yang berbeda dengan cara pandang
orang modern. Buat apa? Buat mencari identitas? Identitas tidak harus
sama dengan masa lalu. Yang kita perlukan adalah menyadari sangkan
paran kita. Dalam tubuh kita mengalir darah nenek moyang, dalam jiwa
kita mengalir rohani nenek moyang kita, hanya kita tidak pernak
menyadarinya, Di negara manapun, orang Jawa tetap memperlihatkan
kejawaannya. Tetapi yang mana? Ketidaksadaran kolektif inilah yang
dicoba dikuak oleh tulisan tentang damarkurung ini. Mengapa tangan
kanan lebih “sopan” dari tangan kiri? Mengapa kita tak mau duduk
di deretan depan? Mengapa isteri kita sering kita kenalkan sebagai
“konco wingking” alias “teman rumah belakang”? Mengapa kita
menilai rendah milik kita di depan umum? Mengapa kita mengizinkan
anak-anak kita ramai-ramai menyaksikan kuda dikawinkan? Itu semua
membedakan orang Jawa dengan orang-orang lain suku dan bangsa. Dan
itu ada hubungannya dengan acuan hidup kita, yakni bernama tradisi
Jawa. Dan tradisi ini suatu keutuhan yang dilandasi oleh cara
berpikir tertentu tentang hidup ini.
Damarkurung dapat menjelaskan
asal-usul tradisi ini.
Bandung, 10 Pebruari
2002.
(Jakob Soemardjo)
Budayawan & staf pengajar
Pendidikan Pasca Sarjana
Fakultas Senirupa & Desain, Institut
Teknologi Bandung.